Pemberian Imunisasi: Perlu, Gak, Sih?

Memiliki anak adalah dambaan setiap orang tua. Klise, tapi tentunya mengandung tanggung jawab tinggi setingkat dewa. Bagaimana tidak? Karena bukan hanya tentang hamil dan melahirkan saja, memiliki anak juga tentang hak dan kewajiban yang perlu dipenuhi oleh orang tua, sebagai bekal anak tumbuh sehat dan bahagia di kemudian hari. Nah, salah satu tanggung jawab orang tua terhadap anak adalah dengan cara pemberian imunisasi.

Di tengah isu pro dan kontra di kalangan ahli agama, praktisi kesehatan, dan bahkan orang tua sendiri, pemberian imunisasi pada anak menjadi polemik yang tidak pernah ada habisnya. Isu yang berkembang seperti tentang adanya zat haram yang terdapat di dalam cairan vaksin, imunisasi yang diragukan manfaatnya, direnggutnya kebebasan orang tua untuk memilih karena imunisasi diwajibkan, dan lain sebagainya. Jadi, apa itu imunisasi?

Pengertian Imunisasi

Imunisasi merupakan sebuah proses yang menjadikan seseorang imun atau kebal terhadap suatu penyakit. Prosesnya yaitu memberikan vaksin yang merangsang pembentukkan kekebalan tubuh. Sebenarnya, bayi yang baru lahir sudah memiliki antibodi alami atau kekebalan pasif, yang didapat dari ibu sejak masih dalam kandungan. Tapi, antibodi tersebut hanya bertahan selama beberapa minggu atau bulan sejak dilahirkan. Maka, perlu dilakukan pemberian vaksin sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan, dan juga sesuai dengan jenis penyakit yang ingin dicegah.

Rincian Imuninasi di Indonesia

Beberapa vaksin memang cukup diberikan hanya satu kali seumur hidup. Tapi, ada juga yang diberikan lebih dari satu kali, dan bahkan sampai tiga-empat kali. Berdasarkan Permenkes No. 12 Tahun 2017, imunisasi dibagi menjadi dua yaitu imunisasi dasar dan imunisasi lanjutan. Berikut rincian lengkap imunisasi tersebut:

Imunisasi Dasar

  • 0 bulan: imunisasi hepatitis B
  • 1 bulan: imunisasi BCG dan polio
  • 2 bulan: imunisasi DPT, hepatitis B, HiB, dan polio
  • 3 bulan: imunisasi DPT, hepatitis B, HiB, dan polio
  • 4 bulan: imunisasi DPT, hepatitis B, HiB, dan polio
  • 9 bulan: imunisasi campak/MR

Imunisasi Lanjutan

  • 18-24 bulan: imunisasi DPT, hepatitis B, HiB, dan campak/MR
  • Kelas 1 SD/sederajat: imunisasi campak dan DT
  • Kelas 2 dan 5 SD/sederajat: imunisasi Td

Selain kedua tahap imunisasi di atas, ada beberapa imunisasi lain yang masuk dalam jenis imunisasi tambahan, yang juga masih mengacu pada anjuran pemerintah tapi tidak diwajibkan. Berikut beberapa rinciannya:

Imunisasi Tambahan

  • 12-18 bulan: imunisasi MMR
  • 24 bulan: imunisasi tifoid
  • 6 minggu-24 bulan: imunisasi rotavirus
  • 2, 4, dan 6 bulan atau di atas 24 bulan: imunisasi pneumokokus (PCV)
  • di atas 12 bulan: imunisasi varicella
  • minimal 6 bulan: imunisasi influenza
  • di atas 24 bulan: imunisasi hepatitis A
  • 10-18 tahun: imunisasi HPV

Manfaat Pemberian Imunisasi Pada Anak

Apakah anak yang sudah diimunisasi pasti akan kebal terhadap semua penyakit? Tentunya pertanyaan ini seringkali terlintas dalam benak orang tua, bukan? Jawabannya, imunisasi memang mampu mencegah penularan penyakit. Anak-anak yang sudah mendapat imunisasi lengkap, lanjutan, dan tambahan akan menjadi anak yang lebih jarang sakit. Hal ini dikarenakan sistem imun yang sudah diperkuat oleh pemberian imunisasi. Selain itu, imunisasi juga mampu mencegah penularan penyakit dari seseorang kepada orang-orang yang ada di sekitarnya.

Tapi yang perlu diingat adalah memberikan imunisasi tidak membuat anak 100% terhindar dari penyakit. Hanya saja, anak-anak memang masih bisa terkena penyakit, tapi dengan kondisi dan gejala yang jauh lebih ringan dibanding anak-anak yang tidak diimunisasi.

Pemberian imunisasi pada anak memang salah satu cara yang tepat untuk melindungi kesehatan anak di masa depan. Tapi, jangan lupa untuk tetap memenuhi kebutuhan nutrisinya dengan pemberian ASI, susu, makanan sehat, dan menjaga kebersihan, ya. Agar proses tumbuh kembang anak menjadi lebih optimal. (DES)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *