Yang Mengetuk Kaca

Oleh: Ikrima Zahara

Kesialan ini benar-benar harus menimpaku pada saat ini, ya? Perkuliahan sedang sangat padat karena pekan UAS. Segala tugas-tugas untuk memenuhi nilai akhir menumpuk dan membuat kepalaku pusing. Mengapa hal ini harus jadi tambahan penderitaanku? Sial. Hari ini harusnya aku mengerjakan tugasku yang masih banyak. Namun kejadian kemarin masih saja menghantuiku. 

— 

Semuanya ini berawal saat malam kemarin ketika aku memutuskan untuk pulang sendiri ke kontrakan daripada menginap bersama teman-teman di kontrakan yang biasa kami jadikan tempat berkumpul untuk nongkrong hingga mengerjakan tugas. Hari itu panjang sekali, aku sudah terjaga 2 hari. Jika aku tidur di tempat itu, aku tidak akan mendapatkan tidur yang baik. Malam itu harusnya normal saja seperti malam-malam lain saat aku berkendara sendiri. Sialnya, malam itu ada yang menumpang di motorku. Seorang anak laki-laki berusia sekitar 7 tahun. Aku tak melihat wajahnya. Pada saat itu kendali motor tiba-tiba terasa berat sekali seakan aku menyeret beban yang sangat berat di belakang. Saat aku memeriksa apa yang ‘mengikuti’ di belakang, aku bisa melihat kepala anak kecil yang penyok. Serius. Aku melihatnya. Seram sekali. Bagaimana kepala manusia penyok begitu? Aku hilang kendali. Semuanya bukan halusinasi. Motorku jatuh dan anak itu hilang begitu saja. Beberapa saat kemudian untungnya seseorang datang menyelamatkanku dan membantuku berdiri. 

Jika aku menceritakan pengalaman itu kepada siapapun, maka tidak akan ada yang percaya. Jadi aku diam saja. Satu hari penuh setelah kejadian itu aku hanya berbaring di tempat tidur. Untung saja tak ada luka yang serius. Dari sore tadi hujan dengan rintik pelan turun dan terdengar syahdu dari kamarku. Suhu udara juga jadi dingin. Kucing-kucing peliharaanku yang sebentar tadi sudah ku beri makan tiba-tiba mengeong tak karuan. Saking terganggunya, aku duduk dan mengecek apa yang sedang mereka ributkan. Kepalaku terasa berat karena seharian tadi hanya diisi dengan tidur. Ternyata mereka mengeong keras ke arah jendela. Terus terang aku merasa sedikit was-was. Kejadian tadi malam masih sangat aku ingat karena aku bisa pastikan apa yang ku lihat bukan halusinasi. Aku laki-laki dewasa berumur 21 tahun, harusnya aku berani memeriksa apa yang ada di luar, kan? Tapi saat itu aku tidak memeriksa. Aku bersembunyi di balik selimut dan tertidur. 

— 

Rasanya aku sudah tidur beberapa jam. Ketika aku membuka mata, semuanya gelap gulita. Aku terbangun karena mendengar suara ketukan kaca di jendela. Aku berusaha mengumpulkan kesadaran dan memberanikan diri untuk melihat apa yang ada di baliknya. Aku tidak melihat apa-apa. Tiba-tiba suara ketukan terdengar lagi. Sial. Tapi di jendela tidak terlihat siapa-siapa. Aku turun dari tempat tidur dan berjalan pelan ke arah jendela. Sial. Langkahku lambat dan takut-takut. Aku menyentuh permukaan dingin kaca jendela kamarku. Embun memenuhi permukaan luar jendela sehingga aku tak bisa melihat apapun dari dalam. Suara ketukan itu terdengar lagi. Jelas hingga membuatku terperanjat. Aku bergegas membuka jendela dengan cepat untuk memeriksa siapa yang sedang menggangguku. Yang benar saja, sudah jam berapa ini? Namun aku tak melihat siapapun di luar. Jendela kamarku langsung menghadap pekarangan kontrakan. Suara ketukan kemudian terdengar lagi. Sial. Tapi aku tepat sedang berada di jendela. Lalu ketukannya dari mana? Suara ketukan itu terdengar lagi dan kali ini dalam durasi yang lebih lama. Ketukan itu konstan. Seketika tubuhku kaku. Aku lupa bahwa permukaan dinding tepat di atas tempat tidurku dipasangi kaca.


Ikrima Zahara, 1997 

Menulis merupakan sesuatu yang sudah dimulai sejak ia duduk di Sekolah Dasar. Sempat berganti-ganti genre yang ia suka untuk ditulis, kini Ikrima memutuskan untuk tidak menetap pada satu genre saja. Saat ini, ia sering menulis di Twitter dengan username @zhikrima dalam genre mengeluh dan marah-marah. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *