Tradisi Siat Geni, Perang Api Turun Temurun Di Bali

Setiap desa di Bali memiliki tradisi yang unik. Kali ini kita membicarakan tradisi Desa Adat di daerah Tuban, Bali, yaitu upacara Perang Api (Siat Geni). Siat Geni dilakukan setiap Purnama Keempat (Purnama Kapat). Tradisi ini sudah diwariskan secara turun-temurun dan dipercaya dapat menjauhkan desa dari segala bentuk bencana atau malapetaka. Asal mula terbentuknya tradisi ini adalah konon warga Desa Adat Tuban pernah mengalami suatu musibah atau bencana, yaitu terserang wabah penyakit yang tidak diketahui penyebabnya. Secara tiba-tiba banyak warga yang meninggal. Adanya musibah yang tidak diinginkan itu membuat warga Tuban bertanya-tanya tentang apa penyebab dari wabah penyakit tersebut.

Pemangku yang bertugas di Pura Dalem Kahyangan Tuban mendapat pawisik (wangsit), bahwa awal dari malapetaka yang menimpa warga itu dikarenakan banyak warga yang meninggal secara tidak wajar (mati salah pati). Mereka yang mati salah pati ini ingin agar dilakukan suatu upacara yang dapat membuat mereka bahagia di alamnya. Selain itu, pemangku juga mendapat pawisik apabila ingin wabah penyakit yang menimpa warga itu hilang, warga Tuban harus melaksanakan Siat Geni di jaba sisi (Nista Mandala) Pura Dalem Kahyangan Tuban. Siat Geni menggunakan sarana api yang merupakan simbol sebagai pelebur, maka dileburlah semua wabah penyakit yang menimpa warga Tuban.

Pelaksanaan Siat Geni

Dalam pelaksanaannya, upacara Siat Geni ini hanya boleh diikuti oleh warga setempat. Sarana atau alat yang digunakan dalam upacara Siat Geni adalah serabut kelapa dan api. Serabut kelapa yang dipakai haruslah dicuri dari rumah warga. Sedangkan api yang digunakan untuk menyalakan serabut kelapa tersebut haruslah diambil dari dalam Pura Dalem Kahyangn Tuban. Saat ritual dimulai, arwah orang-orang yang meninggal secara tidak wajar tersebut memasuki badan para peserta yang mengikuti ritual. Mereka akan berperang melawan satu sama lain menggunakan sarana tersebut. Ritual ini diiringi oleh tabuhan gamelan yang meriah.

Peserta biasanya berjumlah 40-60 orang yang dibagi menjadi 2 kubu. Warga yang mengikuti ritual, syaratnya harus sudah menginjak remaja (menek kelih). Karena remaja memiliki ego yang masih tinggi sehingga mudah untuk dirasuki. Sebelum memulai ritual, warga akan diperciki tirta pasupati supaya kebal dan tidak terlukai saat terkena api. Setelah selesai ritual, para warga akan diberikan tirta pralina butha yaitu tirta yang melepaskan arwah yang merasuki selama prosesi. Setelah itu, warga diharuskan untuk mandi ke laut untuk membersihkan badan serta hal-hal negatif. Selain untuk melebur hal-hal yang bersifat negatif, ritual ini juga merupakan persembahan kepada Dewi Durga sebagai Sakti Dewa Siwa yang beristana di Pura Dalem Kahyangan.

Nah, itulah salah satu tradisi unik dari Desa Adat Tuban, Bali. Ingin menyaksikannya secara langsung? Datang saja pada Purnama Keempat, ya. (drh. Devi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *