Potongan Daging

Oleh: Ikrima Zahara

Hari seluruh siswa di sekolah kami dipulangkan lagi. Insiden ini sudah terjadi setidaknya yang ketiga kali dalam 6 bulan terakhir. Aku tidak paham apa yang membuat kepala sekolah kami begitu berlebihan hingga setiap insiden ini terjadi, beliau bersikeras menyuruh kami semua pulang. Beberapa waktu yang lalu aku pernah bertanya kepada Ibu mengenai apa yang mendasari kepala sekolah menjadi secupu itu. Sekolah ini sudah sangat tua, bahkan Ibu dulu juga bersekolah di sini. Ibu juga tidak mengerti persis asal mula kejadian aneh ini mulai terjadi di sekolah itu, namun beberapa guru pada saat itu menceritakan apa yang ia tahu. 

Guru sudah sangat tua, kata ibu, umunrya sudah mau masuk 60. Rambutnya yang dipenuhi uban selalu diikat ke belakang. Katanya, dulu ada guru sekolah ini yang jatuh hati pada muridnya sendiri. Beberapa kali ia mencoba mendekati gadis yang ia sukai tersebut, namun selalu ditolak mentah-mentah. Suatu kali, ia tak kuasa lagi menahan nafsunya dan memperkosa gadis itu. Di belakang sekolah. Guru itu juga tak mampu mengontrol dirinya hingga akhirnya berujung membunuh gadis malang itu. Konon, guru yang sudah kepalang panik itu memutuskan untuk melenyapkan barang bukti. Ia menyeret mayat itu ke suatu lokasi terpencil di belakang sekolah, datarannya dipenuhi semak dan pohon-pohon besar. Di sana, ia memotong-motong tubuh itu hingga menjadi bagian kecil sekali. Bagian-bagian kecil itu, ia kubur di setiap pohon yang ada di belakang sekolah. Jadi, setiap pohon pada hutan kecil di belakang sekolah itu, di bawahnya ada setidaknya ada 1 hingga 2 potongan daging siswi yang nasibnya naas itu. Begitu cerita guru itu kepada ibu. Pria yang melakukan itu ditangkap seminggu setelahnya karena ia sendiri yang melaporkan diri. Tak lama di penjara, akhirnya ia dipindah ke rumah sakit jiwa karena sipir meyakini dia menderita halusinasi. Katanya, pria itu sering tiba-tiba bertemu perempuan yang memotong-motong badannya sendiri. 

Waktu pertama kali mendengar cerita itu, aku bergidik ngeri. Lagi pula salahnya sendiri berlaku kejam begitu kepada seseorang. Memang apa susahnya menghadapi penolakan? Konon katanya pria itu hingga saat ini masih di penjara walaupun umurnya sudah sangat tua. Sebelum meninggalkan kelas, aku mengirim pesan kepada temanku untuk menunggu di gerbang. Hari ini aku malas jalan kaki, jadi ku pikir tidak ada salahnya menumpang dengan seorang teman. Anehnya pesan singkatku tidak dibalas dan hanya dibaca saja, tidak dibalas walaupun dengan kata ok. Tapi, bukan masalah besar, sih. Insiden tadi pagi adalah ada seorang anak perempuan yang berteriak keras di wc hingga ia ditemukan pingsan. Teman-temanku yakin dia tadi bertemu dengan ‘sosok’ itu. Kepala sekolah langsung tak pikir panjang. Wajar, kata wali kelasku. Katanya, jika ‘dia’ menampakkan diri dalam satu waktu, maka dalam satu hari itu dia akan muncul di mana-mana. Dulu, katanya, bahkan sempat terjadi penampakan di 13 tempat sekaligus. Dan mereka melihat sosok yang sama. 

Ketika aku keluar gerbang, aku melihat temanku berdiri di ujung gerbang depan. Wajahnya agak aneh, namun ekspresinya seakan menyuruhku mendekatinya. Ketika aku sudah berdiri tepat di depannya, wajahnya yang ternyata dipenuhi dengan keringat agak gemetaran berkata, “Pulang sendiri saja ya, kamu.” 

“Okay,” jawabku. Namun ekspresinya yang aneh membuatku ingin bertanya, “Ada yang salah?” 

“Tidak.” jawabnya. “Hari ini sudah ada yang mau menumpang…” tutup temanku dengan suara makin gemetar. Tubuhku langsung merinding. Aku melirik di balik bahunya. Sambil memegangi kaki temanku, tampak seorang siswi SMA sedang memotong telinganya.


Ikrima Zahara, 1997 

Menulis merupakan sesuatu yang sudah dimulai sejak ia duduk di Sekolah Dasar. Sempat berganti-ganti genre yang ia suka untuk ditulis, kini Ikrima memutuskan untuk tidak menetap pada satu genre saja. Saat ini, ia sering menulis di Twitter dengan username @zhikrima dalam genre mengeluh dan marah-marah. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *