DIDI KEMPOT, PATAH HATIMU ABADI

Di sebuah pagi di akhir minggu yang cukup damai, saya bersama kawan-kawan saya yaitu segelas kopi dan mod vape, mendengarkan dengan khidmat alunan kembang tebu sing kabur kanginan. Mendadak pagi itu jadi syahdu sekaligus nggrantes. Memang benar kata Agus Mulyadi, lagu-lagu Didi Kempot bisa membuat kita patah hati tanpa jatuh cinta. Saya pun tidak pernah benar-benar jatuh cinta pada lagu-lagu Didi Kempot. Dulu, lagu campursari hanya dinikmati oleh kalangan menengah ke bawah dan orang-orang lanjut usia saja. Melantun di antara tukang becak di depan rumah, kuli angkut beras di sebelah rumah, di dalam kamar Mbah Kung, kuli toko besi di sebelah kanan rumah, di nikahan orang-orang di desa, di dalam pasar di antara tumpukan seledri, bawang pre dan lombok. Begitulah, masa iya saya yang mau memasuki remaja saat itu mendengarkan Didi Kempot? Kan gak mbois. Padahal ya kalau mau ngaku, mau tidak mau suka tidak suka saya hapal semua lagunya. Sebut apa saja, Kuncung? Ketaman Asmoro? Jambu Alas? Layang Kangen? Tanjung Mas Ninggal Janji? Sekonyong-konyong Koder? Lagu-lagu yang walaupun tidak dengan sengaja dan seksama mendengarnya namun bisa mudahnya nyantol di ingatan saya.

Hingga pertengahan tahun 2019, saya melihat sebuah video Pakde Didi di Twitter yang sedang konser di Balekambang, Surakarta. Anehnya, penontonnya hampir kebanyakan anak muda! Mengaku tidak mengaku, saya merasa relate dengan kondisi tersebut. Entah euphoria masa kecil, ataukah memang sebegitu dahsyatnya lagu beliau sehingga menghipnotis penonton usia muda. Mbak-mbak manis berhijab, mas-mas style kekinian, bisa-bisanya sing along bahkan sampai nangis-nangis sambil nyanyi. Luar biasa. Setelah sekian belas, puluh tahun, musik Campursari kini menjadi milik millennial! Sejak hari itu saya mulai mendengarkan lagu-lagu beliau lagi walaupun suami saya masih memandang dengan heran seperti mau ngomong “Kamu kesambet apa?”. Baik, agar tak seperti alien Englishman in New York, saya mencoba memperkenalkan lagu-lagu Didi Kempot kepada suami saya yang Sunda tulen. Awal mulanya dia masih belum tertarik karena “Naon sateh dengerin lagu gini aku teh ga ngerti artinya”. Hingga pada bulan Juli, Gofar Hilman, youtuber dengan 800K lebih subscriber itu mengadakan Ngobam (Ngobrol Bareng Musisi) On Air pertama kali dengan Didi Kempot di Surakarta. Suami saya, sebagai jamaah sekutiyah perduniawian, tertarik nonton dan mulai takjub dengan hype penontonnya yang ternyata luar biasa bikin merinding. Setelah itu beliau mulai mendengarkan sampai hafal lagu-lagu Didi Kempot. Iya, sampai hafal semua lagunya! Puncaknya, suami saya dengan semangat mengajak nonton Synchronized di Jakarta bulan Oktober 2019 karena pakde Didi tampil dalam konser musik akbar anak muda hits ibukota itu. Bukan main seru saat bisa menyanyi dan joget bersama sobat ambyar dan melihat langsung The Lord of Broken Heart tersebut.

Namun di awal bulan Mei ini, pagi-pagi ketika akan memulai siap-siap berangkat kerja, saya buka Twitter dan langsung MAK BLAAAAAAARRR!! Bagai tersambar petir saya mendapati berita Pakde Didi Meninggal dunia. Sambil mandi di bawah kucuran air shower, saya nangis misek-misek. Kemudian muncul rentetan flashback kenangan maupun keinginan nonton konser beliau dengan randomnya. Keseruan nonton konser pakde Didi akhir tahun lalu, keinginan nonton konser beliau lagi tahun ini, kenangan nangis-nangis berpisah sama mantan (dulu) di Stasiun Balapan Solo, malam-malam harus naik bis di Terminal Tirtonadi saat harus meninggalkan kota Solo, tahun baruan di Pantai Klayar Pacitan bersama mantan (yang lainnya), motoran di Dalan Anyar Ngawi saat harus PP menempuh kuliah di Solo, dan kenangan-kenangan lainnya yang tiba-tiba berhamburan keluar. Kenal juga enggak, kenapa saya bisa begitu sedih dan terluka atas meninggalnya beliau. Namun seperti kata beliau, sakit hati tidak perlu ditangisi, tapi justru harus dijogeti. Sakit hati bisa semenyenangkan ini berkat Didi Kempot. Ternyata memang benar, lagu-lagu beliau memang melekat di hati pendengarnya. Dan di akhir masa hidupnya. Didi Kempot tidak hanya tinggal di hati pendengar Jawa saja, namun sudah me-nasional. Matur sembah nuwun atas segala lagu ciptaan dan kenangan yang dibuatnya, Pakde. Dirimu memang sudah tidak ada, namun patah hatimu abadi. (LY)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *