Anak dari Hutan Belantara

oleh: Ikrima

Tadi sore aku dapat kabar bahwa ibuku meninggal. Beliau sudah sangat tua. Aku yang sedang kuliah semester akhir merupakan anak bungsu dari 8 bersaudara. Begitu mendengar kabar itu, aku langsung bergegas berangkat ke kampung halaman. Setelah mengurusi beberapa hal sebelum ku tinggal untuk beberapa waktu, aku langsung naik bus pertama yang aku temui di terminal. Jarak kota tempatku berkuliah dengan kampung halaman tidak dekat, namun juga tidak terlalu jauh. Sekitar 10 jam naik bus. Setelah adzan isya, supir bus sudah mulai bergerak. Perjalanan ini akan jadi perjalanan malam pertamaku. Semasa beliau hidup. Ibuku selalu mewanti-wanti agar jangan pernah naik bus malam. Takut diikuti dedemit, katanya. Namun keadaannya sudah begini, kan? Tidak mungkin juga aku melewatkan pemakaman beliau. Setelah puluhan menit di dalam bus yang berjalan, pikiranku yang dari tadi tidak pernah benar-benar bersamaku akhirnya membuatku mengantuk. Jalanan yang ku perhatikan dari balik jendela perlahan samar dan hilang seiring saat aku menutup mata. 

Ketika aku terbangun, bus kami mulai memasuki jalur gelap yang sisi kiri dan kanannya hutan belantara yang gelap gulita. Lampu bus menyala kecil dan hanya pada area supir. Hampir seisi bus sedang tertidur. Rasanya aku tahu lokasi ini. Ini adalah lokasi yang sering banyak cerita mistis. Entah karena apa. Pembangunan di sekitar jalanan ini pun tidak pernah berkembang. Kata Ibu, dari dulu hingga sekarang bahkan tak pernah dipasangi lampu jalan. Jadi ketika kendaraan melewati jalan ini, yang diandalkan hanya lampu kendaraan masing-masing. Aku melirik jendela yang diisi oleh warna hitam pekat. Di luar benar-benar gelap. Tiba-tiba saja, terdengar suara anak kecil yang sayup-sayup berseru, “Pak, berhenti di sini, pak.” 

Supir bus tampak ragu-ragu namun mulai memperlambat bus. 

Kenek bus yang tadi duduk lantas berdiri. “Loh, ngapain kamu turun di sini? Hutan belantara lho ini, nak.” 

Suara kenek yang terkejut itu mulai membangunkan orang-orang, ditambah bus yang semakin terasa jelas akan berhenti. Aku yang dari tadi sudah bangun membalikkan badan agar bisa melihat sosok anak itu dengan jelas. 

“Udahlah, pak. Saya turun di sini.” anak itu sekarang sudah berdiri sebelum pintu. Dia tidak dengan siapa-siapa. Pakaiannya pun tidak seperti seseorang yang berpergian. Celana yang ia kenakan pendek. Dia juga tidak pakai alas kaki. 

“Kamu mau kemana? Hutan semua lho, gelap gitu. Setan ya kamu?” 

Orang-orang yang bangun beberapanya mengucap istigfar. Kenek bus membukakan pintu. Anak itu turun tanpa menjawab apa-apa. 

“Udahlah, tutup lagi cepet pintunya. Demit itu. Astaghfirullah.” Supir berseru dari tempat duduknya. Anak itu melompat ke pinggir jalan dan bus malam kami langsung bergerak menjauh. Hampir semua orang yang menyaksikan kejadian itu melongok ke jendela demi melihat kemana anak itu pergi. Aku dapat melihat persis karena aku duduk di samping jendela. Tidak bohong, anak itu berjalan santai ke area hutan yang gelap dan kemudian hilang begitu saja. 

Seseorang di dalam bus berseru keras, “Lho, hilang anaknya?! Astaghfirullah.” 

Seisi bus ikutan istighfar. Suara mereka bersautan dan bergantian. Hutan belantara ini akan habis sekitar setengah jam lagi. Tak ada satupun di antara kami yang tahu siapa lagi yang akan minta turun. 

—————————————————————————-

Ikrima Zahara, 1997 

Menulis merupakan sesuatu yang sudah dimulai sejak ia duduk di Sekolah Dasar. Sempat berganti-ganti genre yang ia suka untuk ditulis, kini Ikrima memutuskan untuk tidak menetap pada satu genre saja. Saat ini, ia sering menulis di Twitter dengan username @zhikrima dalam genre mengeluh dan marah-marah. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *