Tentang Sebuah Labirin Milik Perempuan

Menulis bagi saya adalah selalu soal keteguhan hati untuk terus menerus bergulat dengan diri sendiri. Ya, menulis itu memang susah-susah gampang. Apalagi jika menulisnya di Labirin Perempuan yang penuh kelokan dan entah kapan selesainya. Setidaknya, itu yang saya rasakan ketika memutuskan untuk bergabung dan bersama-sama membuat pondasi bagi komunitas yang telah berkembang pesat rasa serta karyanya ini. 

Apakah yang kami mulai ini baik adanya? Ada yang jawab mungkin, banyak juga yang tidak yakin lalu tidak tahu. Tapi, saya bukan peragu. Giliran ditanya seperti ini saya akan menjawab dengan lantang bahwa: Benar, Labirin Perempuan ini memang multi manfaat bagi banyak orang maupun bagi perempuan pada khususnya. Termasuk juga saya, yang merasa sudah bertumbuh bersama dan bermetamorfosis hingga dapat mengepakkan sayap warna-warni yang dulunya tak pernah saya ketahui ada. 

Kontemplasi Labirin Kehidupan

Layaknya ulat bulu, saya di masa lampau melulu tersesat. Cuma bebekal rasa haus dan lapar, seekor ulat bulu akan terus menjelajah dan merejang sekitarnya dengan tak tentu arah dan tujuan. Insting memang motivasi kuat tapi bertahan hidup bukanlah pencapaian. Saya masih ingat bahwa ada masanya, sedikit (atau banyak) pemberontakan bengal adalah yang kita pikir dibutuhkan untuk memaknai hidup.  

Seorang yang sangat penting bagi saya pernah berkata, perempuan seperti kamu selamanya tidak akan pernah membaur. Dia bilang saya akan selalu berburu dan meramu sendirian seperti serigala yang tak punya rumah untuk pulang. Menilik kembali masa muda selalu saja berhasil membuat saya termangu, karena ya, saya sadar kala itu saya bukan manusia yang ideal. Dan parahnya, tantangan hidup yang datang sering saya jawab dengan salah karena selalu saja merasa sendirian. 

Namun, yang dulunya begitu, sekarang tidak lagi. Kini saya tertawa saja jika mengenang ini karena saya sangat yakin bahwa saya sudah berlari jauh melampaui fase hidup yang itu. Labirin yang ini sudah terlewati dengan terbilang sukses. Dan dengan perasaan bungah, saya akan membocorkan rumusnya. 

Rumus Labirin

Menyelesaikan labirin kehidupan memang tak pernah mudah. Persoalan hidup bukan sekedar pilihan ganda. Ia sungguh pelik dan bahkan bervariasi. Soalku tak mungkin sama dengan soalmu. Bahkan jika sama, selalu saja ada sedikit pecah yang membuatnya berbeda. Benar sekali jika kita perlu menuliskan jawabannya sendiri. Menguntai makna dengan kontemplasi mandiri memang sudah jadi suatu keharusan. Tapi, kita tak perlu mencari jawabannya seorang diri. Ini bukan ujian nasional. Kamu diperbolehkan menggunakan segala macam cara untuk menjawab, termasuk phone a friend maupun contekan. 

Itulah yang selalu saya lakukan. Lewat serentetan pesan yang tentunya jauh dari kata singkat, saya bertanya, bertengkar, dan mencontek dari kawan Labirin Perempuan yang lain. Saya mendengar untuk kemudian berbicara. Saya membaca sehingga lalu menulis. Karena inspirasi itu datangnya dari mereka-mereka ini, teman sekaligus musuh besar yang tak mau pergi bahkan ketika kamu berucap bangsat. Seketika, saya merasa berpijak dan kami mengakar. 

Labirin Perempuan dan wadah berbagi

Berbicara soal Labirin Perempuan sama saja seperti bicara soal wadah yang mampu menampung keluh kesah tentang konsekuensi dari pilihan hidup. Tak pelak, saya merasa terhormat diberi kesempatan untuk mengenal sembilan perempuan luar biasa yang saat ini berdiri sejajar bersama saya dalam komunitas Labirin Perempuan. Jangan salah, bahkan kami pun tak memulainya dengan mulus dan sempurna.  Namun, setelah beberapa tahun menempuh lika-liku pertemanan berikut juga bergumul dalam amarah, kami akhirnya menang! Kami tak akan lagi merasa sendiri. Bukankah ini yang semua orang selalu cari?

Jadi, perasaan inilah yang hendak saya bagi, atau lebih tepatnya kami bagi. Hai, perempuan! Sudahkah kamu punya sahabat yang benar-benar sahabat? Sudahkah kamu mengeksplorasi rasa aman? Masihkah kamu berlindung di balik ketersesatan dan menunda metamorfosa? Jangan khawatir, lemesin saja, sayang! Kamu sudah menemukan kami. Dan ini adalah langkah pertama, untuk menyadari bahwa kita semua hidup dalam sebuah labirin demi sebuah kelahiran baru, penemuan baru, yaitu invensi jiwa sendiri. 

Profil Penulis:

Tika Widya adalah seorang penulis wannabe yang sekarang sudah already.

Menulis dengan cakar ayam sejak tahun 1987 lalu menggantinya dengan komputer di tahun 2000.  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *